Kereta Sang Waktu

Posted on May 29th, 2008 by illuminati.
Categories: Life.

Setiap insan menunggu kereta untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan masing-masing. Memilih lintasan dan membangun rel-rel yang akan dilalui oleh kereta mereka. Berlika-liku ataukah lintasan yang lurus, semuanya itu dibangun sesuai dengan visi dan impian mereka. Kereta pun datang menghampiri sang penumpang dan mengantarkan mereka dalam perjalanan yang tak terungkap, Di dalam kegelapan, sang kereta memancarkan lampu yang hanya mampu menerangi sejengkal rel di depannya. Dalam ketidakpastian perjalanan dan hanya bermodalkan impiannya, sang penumpang menatap perjalanan ini dengan penuh pengharapan. Pengharapan akan indahnya tempat tujuan. Perjalanan pun dihiasi oleh nyanyian-nyanyian para pengamen yang menyanyikan lagu-lagu kehidupan. Pedagang asongan pun berteriak menawarkan berbagai macam jajanan, seperti permen “Cinta Aneka Rasa” mulai dari rasa manis, rasa pahit, bahkan rasa sakit, ataukah jajanan lain untuk mengisi perjalanan sang penumpang.

Hari demi hari, tahun demi tahun terus terlewati, perjalanan yang tadinya berselimutkan pemandangan pegunungan yang indah, semakin lama berubah menjadi pemandangan padang pasir yang gersang. Perjalanan terasa lebih berat dan penuh dengan rintangan. Hal ini membuat sang penumpang pun bosan dan ragu akan keberadaan tempat tujuan. Sang penumpang pun mencoba untuk kembali, namun yang dapat dilakukannya hanyalah mempercepat atau memperlambat laju keretanya. Ketika sang penumpang kehilangan semangat untuk mencapai tujuan dan memperlambat laju keretanya, kereta sang waktu pun mengejar dari belakang, menyusul kereta-kereta yang habis akan batu bara semangat.

Tanpa basa-basi sang waktu merampas seluruh harta sang penumpang dan merenggut impian mereka, berusaha untuk menyadarkan mereka bahwa kesempatan mereka untuk mencapai tempat tujuan semakin lama semakin kecil. Dengan marah, sang penumpang pun mengamuk, “Hai kereta sang waktu, mengapa kau begitu curang? Mengapa kau begitu tega merenggut semuanya dariku? Tidakkah kau tahu betapa sakitnya rasa “kehilangan” itu?” Kereta sang waktu pun menjawab dengan lugas, “Aku hanya menjalankan tugasku, akupun melaju dengan kecepatan yang tetap, tanpa perlambatan maupun tanpa percepatan, namun kaulah yang lengah, kawanku.”

Haruskah mereka terus meratapi rasa “kehilangan” itu dan menyesal dengan kesempatan yang telah mereka buang? Tentu jangan kawan! Di depanmu masih terbentang rel-rel yang akan mengantarmu ke tempat tujuan, masih ada lilin harapan yang selalu menyala untukmu, dan masih ada kesempatan-kesempatan yang dapat kau manfaatkan. Untuk apa bergelut dengan masa lalu? Bangkitlah dari mimpimu! Tataplah perjalanan di depanmu! Mari kita mengejar kereta sang waktu yang terus meninggalkan kita! Rebut kembali apa yang telah ia rampas dari kita dan biarkan kereta sang waktu pun merasakan betapa sakitnya rasa “kehilangan” itu!

1 comment.